Wednesday, February 15, 2017

Bayi Bermata Satu Dikatain “Dajjal” TERLALU

Hampir tiap periode tertentu ada saja yang mengirimkan kabar soal “lahirnya dajjal” melalui media sosial, entah blog, BBM grup, WA grup atau dari media sosial lain. Dengan menautkan video pendukung tapi tidak lengkap informasi yang disajikan, akhirnya sisanya kita  penerima berita dibuat berkhayal kemana-mana. Dimana di suatu daerah telah lahir bayi bermata satu yang “mirip” ciri dajjal. Ditambah lagi suatu tempat itu disebutkan adalah di Israel.

Bagi kebanyakan orang di dunia, Israel dianggap sebagai negara kaum Yahudi yang “dimusuhi”, dan menurut kebanyakan orang itu hanya segala yang buruk yang bisa muncul atau lahir di sana. Cap inilah yang sudah mendarah daging di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jadi ketika ada rumor seperti ini (lahirnya dajjal di Israel) akan mudah “digoyang” dan pasti akan banyak orang yang “meyakininya”.

Saya paham, maksudnya adalah supaya kita lekas bertobat kembali ke jalur yang benar sesuai yang diperintahkan agama. Namun menurut saya, cara pengemasan ini yang salah. Justru penyampaian informasi yang tidak lengkap ini membuat “blunder” di masyarakat. Akhirnya yang ada adalah pemberian cap pada sesuatu yang bukan seharusnya.

Coba bayangkan, anak yang lahir itu adalah anak kita sendiri yang kebetulan terlahir tidak sempurna. Pikirkanlah itu!!! Semua orang tidak pernah berharap dilahirkan atau melahirkan anak yang tidak sempurna. Namun ketika kenyataan berkata lain, apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus ikut arus masyarakat “membully”, menstampel anak lahir yang tidak sempurna itu dengan sebutan yang kurang tepat? Tidaklah, dan jangan lakukan itu. Lebih baik berpikir andaikan hal itu terjadi pada diri kita. Sadar!!!

Banyak hal medis yang menjadi faktor kelahiran demikian, penjelasan medis masih mampu menjelaskan hal ini dengan nalar yang jernih. Dan mungkin di sini bukan kompetensi saya menjelaskan hal ini.

Kegelisahan saya muncul ketika saya baca di WA grup saya ada sharing berita demikian. Nampak kasihan pada bayi ini. Entah benar atau tidak, titisan atau siapapun itu. Hendaklah kita berpikir sewajarnya saja, berpikirlah positif. Toh bagi penganut agama yang taat seharusnya lebih “MEMAHAMI” apa yang “tertulis”. Wajar, bangsa Indonesia punya tingkat literasi yang rendah, jadi sulit MEMAHAMI apa yang sudah “tertulis”.

Dajjal sendiri menurut ciri yang “tertulis” adalah (seperti yang saya temukan dibanyak artikel), dajjal ini bermata dua namun salah satunya cacat alias buta sehingga yang berfungsi satu mata saja. Diantara kedua matanya itu tertulis ’kafir’. Nah dari situ saja sudah terlihat, anak bayi yang terlahir tidak sempurna (bermata satu) apakah masih COCOK dikatakan sebagai dajjal yang dimaksudkan itu? Sungguh kita adalah pembully yang luar biasa, bahkan pada anak bayi yang baru lahir kita sudah melakukan PENSTAMPELAN yang sungguh luar biasa jahat.

Ayo lah sadarlah kita pengakses informasi, baca terlebih dahulu informasi yang kita terima, bacalah berulang pahami makna dan maksudnya dengan lebih menggunakan hati. Tidakkah kasihan pada bayi yang lahir tidak sempurna, tidak seperti kita yang dilahirkan lebih baik. Sedikitlah berempati untuk ini atau untuk hal lainnya.

Dajjal adalah tantangan kita sebagai manusia yang ingin berada dijalur Nya. Lebih baik kita lebih mawas menghadapi cara jahat dajjal mengganggu manusia, dengan cara yang lebih ber-OTAK dengan tidak membuly atau mencap atau menstampel orang yang tidak seharusnya mendapatkan hal demikian.

Tingkatkan minat kita terhadap membaca dan tidak sekedar baca, tapi harus mampu memahami maksud, makna dari apa yang kita baca terlebih dahulu sebelum membagikannya. Kemaslah menjadi sesuatu yang positif, baik untuk kebaikan bersama tanpa harus mencap, menstampel, menjudge yang bukan seharusnya. #STOPBERITAHOAX